Tersenyumlah untuk hidupmu!


Bismillahirrahmanirrahiim
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain". (HR. Ahmad)

Rabu, 07 Agustus 2013

Ini ketika aku rindu :'(



Hari ini merupakan malam takbiran 1434 H, dan aku di kamar ini, masih dengan mukena yang ku kenakan ditemani bersama Al-qur’an, sajadah, dan laptop yang aku gunakan untuk mengetik sekarang. Baru saja tadi sore aku mendengar hasil keputusan sidang isbat di salah satu stasiun televisi swasta yang menyatakan besok adalah hari raya idul fitri, ya besok lebaran. Malam ini takbir berkumandang dari berbagai penjuru, hingga terdengar di kamarku. Di lantai bawah ada mama, abah,  dan tamu abah yang sudah ramai untuk mendengar ceramah abah hingga tengah malam lewat mugkin. Tetapi gema takbir yang sangat ramai diluar rumahku itu tidak dapat menghilangkan rasa sepi yang menyelimuti diriku. Tetap saja rumah yang kata orang lumayan besar dengan lantai dua ini terasa sepi...

***
Sebenarnya Aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Aku marasa hari kecilku sangat bahagia dengan kakak-kakak yang selalu di sampingku. Mereka sesekali memarahiku ketika aku berbuat salah. Dulu aku sangat jengkel dengan sikap mereka itu, tapi sekarang aku rindu.. sekarang baru sadar bahwa itu semua demi kebaikanku. Aku ingat, dulu pertama kali mengaji diajarkan oleh dua orang kakak perempuanku. Luar biasa kakak perempuanku itu, karena mereka, aku menjadi fasih melafalkan Al-qur’an. Huruf hijaiyah yang sulit seperti Tho, Dho, Dzho, kakak perempuan yg kedua lah yang mengajariku melafalkan huruf itu. Setiap kali mengajari ngaji sering pula dia memarahiku karena aku sangat susah melafalkan Al-qur’an dengan baik. Walaupun hatiku kesal, di lubuk hati ku yang paling dalam aku sangat mengagumi kakak kedua ku itu, aku selalu memperhatikan mulutnya, bibirnya, dan pipinya saat melantunkan ayat suci Al-qur’an. Aku pahami cara melafalkan huruf hijaiyah itu dengan seksama, sehingga sekarang aku dapat melafalkan Al-qur’an dengan cukup baik walaupun tidak sebagus qoriah dan pemenang lomba MTQ. Ketika aku melafalkan ayat demi ayat qur’an dan bertemu huruf Tho, Dho, dan Dzho aku selalu mengingat kakak perempuanku yang kedua.

Dulu semasa kecil, aku juga dikenalkan dengan do’a-do’a. Salah satunya adalah do’a setelah berwudhu. Kakak perempuan yang ketiga yang mengajari aku do’a itu berhari-hari. Bahkan pernah sekali kakakku itu membentakku karena aku tidak juga hapal. Semenjak itu aku takut dengannya. Tapi beberapa hari setelah itu, aku justru senang karena sudah hapal doa setelah berwudhu sementara teman-temanku di SD dan madrasah belum hapal doa itu. Tidak hanya itu Ia juga sering menjadi imam ketika aku dan dirinya solat berjamaah dan setelah sholat, dia selalu melantunkan dzikir dan doa dengan keras sehingga aku dapat mengikutinya. Hingga ketika aku kelas 6 SD kalau tidak salah, dzikir itu sudah aku hapal. Bunyinya seperti ini “Astagfirullah hal’adzim.. Alladzilailahaillahual hayyul Qoyyum wa atuubu ilaih....” dan seterusnya. Itu adalah sepenggal dzikir yang sering sekali Ia lantunkan ketika selesai solat. mereka juga mengajariku tajwid. Aku kenal huruf idzhar, iqlab, ikhfa, idhgom, qolqolah juga dari mereka. 

Menurutku, Ilmu Agama Islam kedua kakak perempuanku itu sangatlah bagus, maklum karena keduanya merupakan lulusan dari pesantren, sehingga tidak heran bahwa ilmu agamanya lebih tinggi dibandingkan aku yang hanya lulusan sekolah negeri. Aku sangat mengagumi mereka berdua. Kakak keduaku dengan hatinya yang cukup lembut, pintar memasak, menyukai anak-anak, dan walaupun terkadang suka ngambek tapi itu tidak mengurangi rasa sayangku terhadapnya. Kakak ketiga yang sifatnya keras kepala, tangguh, pekerja keras, dan sering sekali memarahiku dengan nada tinggi, Itu semua tidak mengurangi rasa sayangku terhadap beliau. Karena aku tahu dia sayang terhadapku dan berusaha mendidikku agar tidak menjadi anak yang manja. 

Bagaimana dengan kakak laki-lakiku? Dialah anak pertama.  Dia orang yang cerdas dengan segala talenta yang dia miliki, komputer bisa, bahasa asing bisa, pelajaran eksak bisa. Walaupun terkadang sikapnya kekanakan, jorok, dan suka malas tapi aku tetap mengaguminya. Aku ingat, dulu aku sering membicarakannya dikalangan teman smp ku dengan mengatakan, 

“kakak cowo gue anak teknik mesin unibraw lho..”, 

“kakak gue bisa benerin komputer, ngerti dah tentang virus-virus kaya gitu”, 

“..gue udah pasang anti virus baru AVG di pasangin kakak gue..”, 

“yaaaahh naruto yang episode ini sih udah gue baca, kemaren di masukin di komputer gue komiknya sama kakak gue”

“ kakak gue yang no. 1 lulusan teknik mesin unibraw, orangnya pinter tauuu”

Begitu kira-kira yang sering aku ucapkan kepada teman-temanku tentang kakak pertamaku itu. Dia hampir mirip seperti diriku, bahkan sangat nyambung kalau sudah mebicarakan anime terutama naruto, games, berita di tv, pergerakan soekarno dan soeharto, orde baru, G30SPKI, sejarah Indonesia dan Negara lain, bela diri, film yang lagi up to date, dan lain sebagainya. Aku cukup dekat dengan kakak pertamaku ini karena dia sempat tinggal di serang, di rumah ini cukup lama. Sampai akhirnya dia diterima oleh salah satu perusahaan di Surabaya. Ketika aku mendengar hal itu rasanya aku ingin menangis cukup keras karena aku merasa rumah ini akan menjadi sepi sekali. Apalagi pada saat itu aku telah di terima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Yang di pikiranku saat itu, siapa yang akan menemani ibuku?,  siapa yang akan menghidupkan rumah ini?, dan kapan aku merasakan satu keluarga berkumpul?

Aku pun sedih ketika harus meninggalkan ibundaku beberapa hari dan bulan untuk jihad dalam menuntut ilmu. Di bandung, aku sering mengkhawatirkan ibuku, aku selalu ingin pulang. Tapi niatku urungkan demi nilai akademik yang harus ku pertahankan. Ini semua juga untuk membanggakan dan membahagiakan kedua orang tuaku.

kakak keduaku saat ini sudah berkeluarga dan menjadi seorang guru B.Inggris, dan kakak ketigaku seorang perawat handal dengan spesialisasi anestesi, saat ini sedang berproses untuk menuju pelaminan..
kakak pertamaku seorang teknisi handal, dan sudah berkeluarga pula..

***
Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allahu Akbar wa lillaa ilham
Sudah lebaran yang keberapa entahlah aku lupa... 
Aku rindu masa kecilku dan beberapa tahun lalu.. dimana semua kakak-kakakku ada di sampingku, walaupun hanya di hari ramadhan dan lebaran tapi aku merasa satu keluarga utuh pada saat itu.

 ya Allah.. semoga aku masih di beri umur panjang hingga dapat bertemu ramadhan dan lebaran berikutnya, dan saat itu aku ingin sekali keluarga ku ada menjadi satu. Aamiin