Tersenyumlah untuk hidupmu!


Bismillahirrahmanirrahiim
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain". (HR. Ahmad)

Sabtu, 21 Desember 2013

Nyampah ?



Suka gini nih kalau udah merenung diantara keheningan malam. Nyampah? Ngga juga karena saya percaya setiap kata itu punya arti dan makna, apalagi kalimat yang dibentuk menjadi paragraf kemudian menjadi sebuah karya tulis kalau begitu.
Mungkin tulisan ini dikira ngomongin tentang sampah dan lingkungan kali ya, tapi ternyata......
 
Kenapa ya akhir-akhir  ini suka banget nanya, kenapa musti gini? Kenapa sih ini orang2? Biar apa sih itu kaya gitu? Dan terus terus terus nanya. Kira-kira kenapa? (nah loh nanya lagi) Karena kita belum dapet jawabannya! (ya iya lah -_-). Mungkin hal itu kita lakukan karena kita ngga mau mencari terlebih dahulu jawabannya. Malas untuk menganalisis terlebih dahulu. Bahkan untuk mencari fakta otentik saja enggan. Jadi istilahnya kita Cuma mau disuapin mulu. Kita hanya ingin mendapat jawaban dari orang lain, padahal opini orang mungkin belum tentu benar juga. Sebenarnya ngga salah sih kalau kita minta pendapat atau bertanya ke orang-orang, Cuma yaaa jangan keterusan dan keseringan juga. Bisa jadi orang bakal berpikiran bahwa “apaan sih ini orang, nanya mulu ngga tau gue lagi bete apa!” (misalnya sih ini).
 
Ya udah lah ya (kalau kata temen saya bilangnya “yoda”), setiap orang punya cara berpikir masing-masing kan. Apa salahnya mengutarakan pendapat. Eeiiittttss, tapi jangan salah kaprah dulu. Berpendapat itu boleh, tapi ada etikanya loh. Saya ngga tau pasti ada aturannya atau tidak, yang jelas dalam berpendapat kita harus sopan dan diusahakan sekali untuk tidak menyakiti hati orang lain. Dan pastinya jangan asal keluar aja, harus dipikir terlebih dahulu, lebih baik lagi didasari dengan fakta yang ada (hmmm sok bijak kamu rey). Tapi menurut saya ini memang benar. Rasulullah SAW saja ketika berbicara tidak pernah menyinggung perasaan orang lain, sekalipun itu dari kaum kafir Quraisy, Subhanallah..
 
Pelajaran buat diri saya sendiri terutama, dari sekarang kalau mau bertanya segala macam dipikirkan dulu dan berusaha mencari jawabannya sendiri, misal lewat literatur dan buku-buku mungkin. Kalau sudah bingung tidak menemukan jawaban juga baru bertanya.  Untuk masalah pendapat? Mungkin harus lebih banyak belajar tentang hal itu, terutama agar tidak menyakiti hati orang lain.
Yaaaa semua yang ditulis ini hanyalah pendapat yang dilengkapi berbagai fakta yang ada dari tingkah laku orang disekitar.
Semaaangggaaaatt!! J
insyaallah ketika kita selalu mengingat Allah ucapan kita akan diliputi kebaikan didalamnya. 
 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Mengapa Bukan Ayah Saja yang Meninggal?


Ia masih bocah, masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pada suatu hari ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah shubuh. Bagi si anak, Shubuh merupakan sesuatu yang sulit bagi sang bocah, Namun sang bocah telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid.

Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya?

Dibangunkan ayah? ibu? dengan alarm??…

Bukan !!

Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, iapun ingin segera keluar menuju masjid.

Tapi…

Tatkala ia membuka pintu rumahnya suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap…
Membuat nyalinya menjadi ciut.

Tahukah Anda, apa yang ia lakukan kemudian?

Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah…

Ya…
Ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek.
Begitupula cara ia pulang dari masjid.

Bocah itu menjadikan perbuatannya itu sebagai kebiasaan begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada org tuanya yang tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain.

Semuanya dilakukan sang bocah agar ia bisa begadang malam.

Hingga suatu kali…
Terdengar kabar olehnya, kakek itu meninggal. Sontak, si bocah menangis sesenggukan….
Sang ayah heran…

” Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu…bukan siapa-siapa kamu!”
Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata,

“kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”

“A’udzu billah…, kenapa kamu berbicara seperti itu??” kata sang ayah heran.

Si bocah berkata,
“Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh, dan mengajakkku ke masjid. ..
Sementara kakek itu….
setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Shubuh.”

ALLAHU AKBAR!

Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya.
Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yang semestinya taat menjalankan perintah-Nya.

Akhirnya sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya…

“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a’yuniw-waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa..”

Senin, 16 September 2013

LATAR BELAKANG




Terkadang bingung, buat judul dulu atau langsung cerita. hmm, saya tidak pandai buat latar belakang sebenarnya. saya lebih suka sesuatu yang abstrak dan kurang teratur, walaupun sebenarnya itu tidak baik. Ada salah satu teman saya yang sangat pandai membuat latar belakang, contohnya di laporan, di makalah, di jurnal, dsb. kalau saya? ah. memulainya pun susah. malah ketika saya membuat suatu cerita alurnya kebalik-balik sampai buat yang lain bingung.

tapi latar belakang bisa dibentuk ketika kita memang mengerti tujuannya apa. ya, tujuan!. kita tidak tahu tujuan kita apa, oleh karenanya kita tidak bisa menulis latar belakang. eh, ini bukan lagi belajar bahasa Indonesia atau TTKI loh ya. karena latar belakang itu dibutuhkan disetiap pergerakan yang kita buat. tidak hanya bikin laporan, jurnal, ataupun makalah.

Alasan latar belakang sulit kita tentukan dan kita utarakan adalah ketika kita kurang berpendirian teguh. mudah terombang-ambing, dan sulit menentukan apa fokus kita. tapi, bingung juga ya jika kita terlalu berpendirian teguh, apakah berpengaruh pada statusisasi sosial (ala vi*k*) eh, maksudnya hubungan sosial kita dengan yang lain? apakah kalau terlalu berpendirian teguh seperti itu kita mungkin tidak akan mendengarkan nasehat bahkan masukan dari orang lain ? 
eiiitsss, bukan begitu ternyata. berpendirian teguh disini adalah mempertahankan prinsip kita yang memang sudah dikaji agar baik bagi diri kita dan baik dimata Allah (itu menurut saya sebenarnya).

susah banget ya, padahal cuma mau bilang kalau latar belakang itu penting sekali untuk kita. Karena setiap yang kita lakukan, pergerakan yang kita buat, dan solusi yang kita utarakan, itu semua dari latar belakang itu sendiri. tentunya yang sudah matang dan  bermanfaat bagi orang banyak :)

jadi, latihan buat latar belakang yuk! (tiba-tiba kembali ke dunia nyata)

Minggu, 08 September 2013

Keyakinan - Reaksi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr. Beck seorang ilmuwan dan peneliti otak, disimpulkan bahwa dengan memperbaiki keyakinan-keyakinan yang salah, kita dapat mengurangi atau mengubah reaksi kita terhadap suatu peristiwa. Dia menyusun tiga prinsip berikut :

1. seluruh suasana hati Anda dibentuk oleh pikiran. Anda merasakan apa yang Anda kerjakan saat ini disebabkan pikiran yang anda miliki sekarang.

2. ketika anda merasa tertekan, ini disebabkan karena pikiran-pikiran anda didominasi oleh suatu pikiran negatif yang merajalela. yang lebih buruk adalah Anda akan mulai mempercayai bahwa segalanya benar-benar seburuk yang Anda bayangkan.

3. Pikiran-pikiran negatif selalu mengandung berbagai penyimpangan yang mencolok. pikiran yang berbelit-belit merupakan penyebab utama bagi hampir semua penderitaan Anda.


Jumat, 06 September 2013

Mungkin ini rencana-Nya

Ketika mempertanyakan mengapa kita harus melakukan hal ini?, biar apa?, mengapa kita ada disini?, tujuanya apa?, terus mau apa? dan pertanyaan pertanyaan lainnya,  mungkin akan langsung terbesit, ah ini mungkin rencana-Nya. Tapi apa itu wajar ya ketika semua yang terjadi dalam diri kita selalu mengarah pada “ini mungkin rencana-Nya”? kapan kita mau belajar untuk berinstropeksi diri? Berserah diri dan pasrah itu boleh, tetapi setelah semua usaha sudah dikerahkan. kalau kita belum berusaha, apa itu wajar? lalu bagaimana?. Ini bukan bahasa filsafat, tapi ini bahasa kejujuran (haaahh??). Loh rey kenapa ini bahasa kejujuran? Pasti dalam diri manusia ada bahasa kejujuran. Hanya kita dan Allah lah yang tahu (ini kenapa jadi ngelantur ke bahasa kejujuran??). Kembali ke awal...

Enak ya ketika melihat orang yang tetap semangat dan tersenyum saat tugas menumpuk, dapet amanah yang datang silih berganti, diminta untuk menjabat sebagai sesuatu terus menerus. Pasti kita bertanya apa resepya. Hmmm tapi siapa kira bahwa mereka bisa jadi pernah mendapat rintangan yang sangat besar di banding dengan apa yang kita dapatkan. Sehingga mereka sudah terbiasa ketika ada rintangan besar yang menghadang kemudian. Apa cuma itu?  kunci selanjutnya adalah Ikhlas. Seorang sahabat pernah mengatakan, ikhlas itu susah untuk didefinisikan. Tetapi menurutku Ikhlas disini adalah ketika kita melakukan sesuatu memang murni untuk berbuat, bukan untuk diperlihatkan. Entahlah, jadi bingung.

Bisa jadi apa yang kita pilih sekarang bukan apa yang kita inginkan. Tapi Allah Maha mengetaui segalanya. Allah tahu yang terbaik untuk kita. Sekarang kita tinggal bertanggung jawab atas apa yang kita dapatkan. Karena yang kita dapatkan itu terkadang bukan tidak kita inginkan, tetapi itu adalah pilihan kedua atau pilihan cadangan. So, from my organic chemistry lecture said that “i’m responsible to my own decission”

Jangan membatasi diri, mungkin ini memang rencana-Nya, tapi niat, usaha, dan do’a lah yang akan menjadi pertimbangan dari segala apa yg akan kita dapatkan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“reeeeeeyyy jgn sedih, ini mungkin konsekuensi dari segala yg kamu perbuat satu tahun kemarin” seseorang berinisial X berbicara kepadaku

“bisa jadi....” aku menjawabnya

Kemudian aku melanjutkan, “atau dengan seperti ini mungkin aku baru mau belajar, dasar payah aku nih!! tunggu dapat cobaan dulu baru mau belajar”

X kemudian berkata “setiap orang punya caranya masing-masing untuk belajar, dan mungkin ini bisa menjadi pemicu agar hal seperti ini tidak terulang kembali”

“kayanya musti ambis nih hahaha” aku menimpali

“ngga gitu juga kalee rey” kata X sambil terus menulis pekerjaannya

“ini semua untuk Allah, Mama - Abah, dan keluarga. Dan tentunya karena aku adalah muslim, i wanna be a great moslemah, aamiin”

Siang itu pun berubah menjadi cerah.

Rabu, 07 Agustus 2013

Ini ketika aku rindu :'(



Hari ini merupakan malam takbiran 1434 H, dan aku di kamar ini, masih dengan mukena yang ku kenakan ditemani bersama Al-qur’an, sajadah, dan laptop yang aku gunakan untuk mengetik sekarang. Baru saja tadi sore aku mendengar hasil keputusan sidang isbat di salah satu stasiun televisi swasta yang menyatakan besok adalah hari raya idul fitri, ya besok lebaran. Malam ini takbir berkumandang dari berbagai penjuru, hingga terdengar di kamarku. Di lantai bawah ada mama, abah,  dan tamu abah yang sudah ramai untuk mendengar ceramah abah hingga tengah malam lewat mugkin. Tetapi gema takbir yang sangat ramai diluar rumahku itu tidak dapat menghilangkan rasa sepi yang menyelimuti diriku. Tetap saja rumah yang kata orang lumayan besar dengan lantai dua ini terasa sepi...

***
Sebenarnya Aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Aku marasa hari kecilku sangat bahagia dengan kakak-kakak yang selalu di sampingku. Mereka sesekali memarahiku ketika aku berbuat salah. Dulu aku sangat jengkel dengan sikap mereka itu, tapi sekarang aku rindu.. sekarang baru sadar bahwa itu semua demi kebaikanku. Aku ingat, dulu pertama kali mengaji diajarkan oleh dua orang kakak perempuanku. Luar biasa kakak perempuanku itu, karena mereka, aku menjadi fasih melafalkan Al-qur’an. Huruf hijaiyah yang sulit seperti Tho, Dho, Dzho, kakak perempuan yg kedua lah yang mengajariku melafalkan huruf itu. Setiap kali mengajari ngaji sering pula dia memarahiku karena aku sangat susah melafalkan Al-qur’an dengan baik. Walaupun hatiku kesal, di lubuk hati ku yang paling dalam aku sangat mengagumi kakak kedua ku itu, aku selalu memperhatikan mulutnya, bibirnya, dan pipinya saat melantunkan ayat suci Al-qur’an. Aku pahami cara melafalkan huruf hijaiyah itu dengan seksama, sehingga sekarang aku dapat melafalkan Al-qur’an dengan cukup baik walaupun tidak sebagus qoriah dan pemenang lomba MTQ. Ketika aku melafalkan ayat demi ayat qur’an dan bertemu huruf Tho, Dho, dan Dzho aku selalu mengingat kakak perempuanku yang kedua.

Dulu semasa kecil, aku juga dikenalkan dengan do’a-do’a. Salah satunya adalah do’a setelah berwudhu. Kakak perempuan yang ketiga yang mengajari aku do’a itu berhari-hari. Bahkan pernah sekali kakakku itu membentakku karena aku tidak juga hapal. Semenjak itu aku takut dengannya. Tapi beberapa hari setelah itu, aku justru senang karena sudah hapal doa setelah berwudhu sementara teman-temanku di SD dan madrasah belum hapal doa itu. Tidak hanya itu Ia juga sering menjadi imam ketika aku dan dirinya solat berjamaah dan setelah sholat, dia selalu melantunkan dzikir dan doa dengan keras sehingga aku dapat mengikutinya. Hingga ketika aku kelas 6 SD kalau tidak salah, dzikir itu sudah aku hapal. Bunyinya seperti ini “Astagfirullah hal’adzim.. Alladzilailahaillahual hayyul Qoyyum wa atuubu ilaih....” dan seterusnya. Itu adalah sepenggal dzikir yang sering sekali Ia lantunkan ketika selesai solat. mereka juga mengajariku tajwid. Aku kenal huruf idzhar, iqlab, ikhfa, idhgom, qolqolah juga dari mereka. 

Menurutku, Ilmu Agama Islam kedua kakak perempuanku itu sangatlah bagus, maklum karena keduanya merupakan lulusan dari pesantren, sehingga tidak heran bahwa ilmu agamanya lebih tinggi dibandingkan aku yang hanya lulusan sekolah negeri. Aku sangat mengagumi mereka berdua. Kakak keduaku dengan hatinya yang cukup lembut, pintar memasak, menyukai anak-anak, dan walaupun terkadang suka ngambek tapi itu tidak mengurangi rasa sayangku terhadapnya. Kakak ketiga yang sifatnya keras kepala, tangguh, pekerja keras, dan sering sekali memarahiku dengan nada tinggi, Itu semua tidak mengurangi rasa sayangku terhadap beliau. Karena aku tahu dia sayang terhadapku dan berusaha mendidikku agar tidak menjadi anak yang manja. 

Bagaimana dengan kakak laki-lakiku? Dialah anak pertama.  Dia orang yang cerdas dengan segala talenta yang dia miliki, komputer bisa, bahasa asing bisa, pelajaran eksak bisa. Walaupun terkadang sikapnya kekanakan, jorok, dan suka malas tapi aku tetap mengaguminya. Aku ingat, dulu aku sering membicarakannya dikalangan teman smp ku dengan mengatakan, 

“kakak cowo gue anak teknik mesin unibraw lho..”, 

“kakak gue bisa benerin komputer, ngerti dah tentang virus-virus kaya gitu”, 

“..gue udah pasang anti virus baru AVG di pasangin kakak gue..”, 

“yaaaahh naruto yang episode ini sih udah gue baca, kemaren di masukin di komputer gue komiknya sama kakak gue”

“ kakak gue yang no. 1 lulusan teknik mesin unibraw, orangnya pinter tauuu”

Begitu kira-kira yang sering aku ucapkan kepada teman-temanku tentang kakak pertamaku itu. Dia hampir mirip seperti diriku, bahkan sangat nyambung kalau sudah mebicarakan anime terutama naruto, games, berita di tv, pergerakan soekarno dan soeharto, orde baru, G30SPKI, sejarah Indonesia dan Negara lain, bela diri, film yang lagi up to date, dan lain sebagainya. Aku cukup dekat dengan kakak pertamaku ini karena dia sempat tinggal di serang, di rumah ini cukup lama. Sampai akhirnya dia diterima oleh salah satu perusahaan di Surabaya. Ketika aku mendengar hal itu rasanya aku ingin menangis cukup keras karena aku merasa rumah ini akan menjadi sepi sekali. Apalagi pada saat itu aku telah di terima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Yang di pikiranku saat itu, siapa yang akan menemani ibuku?,  siapa yang akan menghidupkan rumah ini?, dan kapan aku merasakan satu keluarga berkumpul?

Aku pun sedih ketika harus meninggalkan ibundaku beberapa hari dan bulan untuk jihad dalam menuntut ilmu. Di bandung, aku sering mengkhawatirkan ibuku, aku selalu ingin pulang. Tapi niatku urungkan demi nilai akademik yang harus ku pertahankan. Ini semua juga untuk membanggakan dan membahagiakan kedua orang tuaku.

kakak keduaku saat ini sudah berkeluarga dan menjadi seorang guru B.Inggris, dan kakak ketigaku seorang perawat handal dengan spesialisasi anestesi, saat ini sedang berproses untuk menuju pelaminan..
kakak pertamaku seorang teknisi handal, dan sudah berkeluarga pula..

***
Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allahu Akbar wa lillaa ilham
Sudah lebaran yang keberapa entahlah aku lupa... 
Aku rindu masa kecilku dan beberapa tahun lalu.. dimana semua kakak-kakakku ada di sampingku, walaupun hanya di hari ramadhan dan lebaran tapi aku merasa satu keluarga utuh pada saat itu.

 ya Allah.. semoga aku masih di beri umur panjang hingga dapat bertemu ramadhan dan lebaran berikutnya, dan saat itu aku ingin sekali keluarga ku ada menjadi satu. Aamiin